Welcome to Pengadilan Agama Ende   Click to listen highlighted text! Welcome to Pengadilan Agama Ende Powered By GSpeech
  • Direktori Putusan
    Masyarakat pencari keadilan dapat mendapatkan salinan putusan dengan cepat dan mudah dengan mengakses Direktori Putusan Mahkamah Agung RI satuan kerja Pengadilan Agama Ende.Selengkapnya
  • Selamat Datang
    Selamat Datang di Website Resmi Pengadilan Agama Ende. Website ini merupakan website pengadilan yang sudah sesuai dengan Pedoman Rancangan dan Prinsip Aksesibilitas Website Pengadilan di Lingkungan Mahkamah Agung. Selain itu website ini dapat diakses oleh masyarakat yang difable.
  • TUTORIAL PENYELESAIAN GUGATAN EKONOMI SYARIAH
    Video yang berisi tentang cara penyelesaian perkara ekonomi syariah dengan acara yang sederhanaSelengkapnya
  • Sambutan Ketua
    Pengadilan Agama Ende berupaya memberikan pelayanan hukum yang berkeadilan kepada para pencari keadilan dengan meningkatkan kredibilitas dan transparansi Badan Peradilan guna menuju terwujudnya Peradilan yang Agung dengan berdasarkan Undang Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik jo. Undang Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI No. 1-144/KMA/SK/I/2011 tanggal 05 Januari 2011 tentang Keterbukaan Informasi Di Pengadilan serta Surat dari Dirjen Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI No. 362/DJU/HM02.3/4/2015 tanggal 16 April 2015 perihal Standarisasi Website Pengadilan. Pengadilan Agama Ende telah memenuhi Standarisasi Website Pengadilan sesuai dengan Pedoman Rancangan dan Prinsip Aksesibilitas Website Pengadilan di Lingkungan Mahkamah Agung.Selengkapnya
  • POSBAKUM
    Bantuan Hukum adalah jasa hukum yang diberikan oleh Pemberi Bantuan Hukum secara Cuma-Cuma kepada Penerima Bantuan Hukum. Penerima Bantuan Hukum adalah orang atau kelompok orang miskin yang tidak dapat memenuhi hak dasar secara layak dan mandiri yang menghadapi masalah hukumSelengkapnya

    

KEDUDUKAN DZAWIL ARHAM DALAM KEWARISAN ISLAM[1]

Tanggapan Atas Tulisan Mahrus AR Yang Dimuat dalam Varia Veradilan No. 391 Juni 2018 Hal. 64

 

Dalam Kitab-Kitab Fiqh Mawaris ahli waris terbagi dalam tiga cluser yakni Dzawil Furudh (ahli waris yang bagian telah ditentukan atau furudul muqaddarah), Dzawil Ashabah (ahli waris yang mendapatkan semua harta waris setelah pembagian bagian tetap atau mendapatkan sisa setelah pembagian bagian tetap),[2] dan Dzawil Arham.[3] Secara umum kita sudah mafhum tentang pengertian dan kedudukan Dzawil Furudh dan Dzawil

Ashabah dalam sistem kewarisan Islam, sehingga dalam tulisan berikut penanggap lebih menitikberatkan pembahasan tentang ahli waris yang ke tiga yakni Dzawil Arham.

PENGERTIAN

Arham berasal dari kata Rahmun yang dalam bahasa Arab berarti 'tempat pembentukan janin dalam perut ibu', sedangkan adalah bentuk jamak dari kata Rahmun. Dalam fiqh mawaris kemudian dikembangkan menjadi 'kerabat', baik datangnya dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu (pengertian ini disandarkan karena adanya rahim yang menyatukan asal mereka). Dengan demikian lafazh rahim tersebut umum digunakan dengan makna 'kerabat', baik dalam bahasa Arab ataupun dalam istilah syariat Islam. Allah berfirman:

"... Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. " (an-Nisa': 1)

"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (Muhammad: 22)

Rasulullah saw. bersabda:

"Barangsiapa yang berkehendak untuk dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi (HR Bukhari, Muslim, dan lainnya)

Adapun lafazh Dzawil Arham yang dimaksud dalam istilah fuqaha adalah kerabat pewaris yang tidak mempunyai bagian/hak waris yang tertentu, baik dalam Al-Qur'an ataupun Sunnah, dan bukan pula termasuk dari para 'ashabah[4]. Maksudnya, dzawil arham adalah mereka yang bukan termasuk ashhabul furudh dan bukan pula ashabah. Jadi, dzawil arham adalah ahli waris yang mempunyai tali kekerabatan dengan pewaris namun mereka tidak mewarisinya secara ashhabul furudh dan tidak pula secara 'ashabah. Misalnya keponakan laki-laki dari saudara perempuan, cucu laki-laki dari anak perempuan, dan sebagainya. Atau dengan kata lain bahwa dzawil arham adalah seluruh kerabat pewaris yang tidak termasuk dalam golongan dzawil furudh dan dzawil ashabah.

Menurut Ulama Sunni kelompok dzawil arham adalah semua orang yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan pewaris tetapi tidak menerima warisan karena terhijab oleh ahli waris dzawil furudh dan ashabah. 

KEDUDUKAN DALAM KEWARISAN ISLAM

Sebagaimana halnya dengan para sahabat Rasulullah SAW, para imam mujtahid juga berbeda pendapat dalam masalah hak waris dzawil arham.

Golongan pertama berpendapat bahwa dzawil arham atau para kerabat tidak berhak mendapat waris. Mereka mengatakan bahwa bila harta waris tidak ada ashhabul furudh atau ashabah yang mengambilnya, maka harta warisan dilimpahkan kepada baitulmal dan disalurkan untuk kepentingan masyarakat Islam pada umumnya. Pendapat ini diantaranya oleh Zaid bin Tsabit R.A., Ibnu Abbas R.A. serta dua imam yaitu Imam Malik dan Imam Syafi’i.

Landasan Dalil Golongan Pertama, bahwa asal pemberian dan penerimaan hak waris adalah dengan adanya nash dari Al-Qur’an atau as-Sunnah. Dan dalam hal ini tidak ada satu pun nash yang pasti dan kuat yang menyatakan wajibnya dzawil arham untuk mendapat waris. Jadi, bila kita memberikan hak waris kepada mereka (dzawil arham) berarti kita memberikan hak waris tanpa dilandasi dalil yang pasti dan kuat.

Dari hadits yang diriwayatkan Said bin Manshur, disebutkan bahwa Rasulullah saw. ketika ditanya tentang hak waris bibi, baik dari garis ayah maupun dari ibu, beliau saw. menjawab, “Sesungguhnya Jibril telah memberitahukan kepadaku bahwa dari keduanya tidak ada hak menerima waris sedikit pun.” Hadits ini di-tahqiq oleh Habib al-A’zhamiy, dengan mengatakan, “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab Marasil-nya dari jalur Abdullah bin Salamah dari Abdul Aziz bin Muhammad, seperti tersebut juga dalam kitab karya Baihaqi (VI/212).” Maka jika keduanya tidak berhak untuk menerima harta waris, dzawil arham yang lain pun demikian.

Anak perempuan dari saudara laki-laki sekandung, yang ada bersama anak laki-­laki dari saudara laki-laki sekandung, tidak berhak mendapatkan apa pun, hanya anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung yang men­dapatkan warisan. Begitu pula bibi dari pihak ayah, yang ada bersama paman dari pihak ayah, tidak dapat menerima warisan. Terlebih lagi jika bibi hanya seorang diri (tidak bersama paman), ia tidak bisa mendapatkan warisan.

Golongan kedua berpendapat bahwa dzawil arham berhak mendapat waris bila tidak ada ashhabul furudh dan ataupun ashabah. Alasannya bahwa dzawil arham lebih berhak untuk menerima harta waris dibandingkan baitulmal. Pendapat ini merupakan pendapat dari jumhur ulama, di antaranya Umar bin Khathab, Ibnu Mas’ud, dan Ali bin Abi Thalib. Dan juga pendapat dari Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hambal. Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad menyatakan bahwa dzawil arham atau para kerabat berhak mendapatkan waris, mereka mendasari pendapatnya itu berdasarkan ayat Al-Qur’an, “Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Anfal: 75)

Makna yang mendasar dari dalil ini ialah bahwa Allah SWT telah menyatakan dalam Kitab-Nya bahwa para kerabat lebih berhak untuk mendapatkan atau menerima hak waris daripada yang lain. Disini, lafazh arham yang berarti kerabat adalah umum, termasuk ashhabul furudh, para ashabah, serta selain keduanya.

Ayat tersebut seolah-olah menyatakan bahwa yang disebut kerabat, siapa pun mereka, baik ashhabul furudh, para ashabah, atau selain dari keduanya, merekalah yang lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang yang bukan kerabat. Bila pewaris mempunyai kerabat dan kebetulan ia meninggalkan harta waris, maka berikanlah harta waris itu kepada kerabatnya dan janganlah mendahulukan yang lain. Jadi, atas dasar inilah maka para kerabat pewaris lebih berhak untuk menerima hak waris daripada baitulmal.

Hal ini juga berdasarkan firman-Nya yang lain, “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dan harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (an-Nisaa’: 7). Melalui ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa kaum laki-laki dan wanita mempunyai hak untuk menerima warisan yang ditinggalkan kerabatnya, baik sedikit ataupun banyak. Seperti yang disepakati oleh jumhur ulama bahwa yang dimaksud dengan dzawil arham adalah para kerabat. Dengan demikian, mereka (dzawil arham) berhak untuk menerima warisan.

Kemudian sebagaimana dinyatakan oleh mayoritas ulama bahwa ayat di atas telah menghapus kebiasaan pada awal munculnya Islam, dimana pada masa itu kaum muslimin saling mewarisi disebabkan menolong dan hijrah. Dengan turunnya ayat ini, maka yang dapat saling mewarisi hanyalah antara sesama kerabat (dzawil arham). Oleh karena itu, para kerabatlah yang paling berhak untuk menerima harta peninggalan seorang pewaris.

Adapun dalil dari al-Hadits adalah ketika Tsabit bin ad-Dahjah meninggal dunia, maka Rasulullah saw. bertanya kepada Qais bin Ashim, “Apakah engkau mengetahui nasab orang ini?” Qais menjawab, “Yang kami ketahui orang itu dikenal sebagai asing nasabnya, dan kami tidak mengetahui kerabatnya, kecuali hanya anak laki-laki dari saudara perempuannya, yaitu Abu Lubabah bin Abdul Mundir.” Kemudian Rasul pun memberikan harta warisan peninggalan Tsabit kepada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir.

Keponakan laki-laki dari anak saudara perempuan tidak lain hanyalah merupakan kerabat, yang bukan dari ashhabul furudh dan bukan pula termasuk ashabah. Dengan pemberian Rasulullah saw. akan hak waris kepada dzawil arham menunjukkan dengan tegas bahwa para kerabat berhak menerima harta waris bila ternyata pewaris tidak mempunyai ashhabul furudh yang berhak untuk menerimanya atau para ashabah.

Dalam suatu atsar diriwayatkan dari Umar bin Khathab r.a. bahwa suatu ketika Abu Ubaidah bin Jarrah mengajukan persoalan kepada Umar. Abu Ubaidah menceritakan bahwa Sahal bin Hunaif telah meninggal karena terkena anak panah yang dilepaskan seseorang. Sedangkan Sahal tidak mempunyai kerabat kecuali hanya paman dari pihak ibu, yakni saudara laki-laki ibunya. Umar menanggapi masalah itu dan memerintahkan kepada Abu Ubaidah untuk memberikan harta peninggalan Sahal kepada pamannya. Karena sesungguhnya aku telah mendengar bahwa Rasulullah saw. bersabda, “(Saudara laki-laki ibu) adalah ahli waris bagi mayit yang tidak mempunyai keturunan atau kerabat yang berhak untuk menerimanya. Dia juga yang membayarkan diyatnya dan mewarisnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Atsar ini, yang di dalamnya Umar al-Faruq memberitakan sabda Rasulullah saw., merupakan dalil yang kuat bahwa kerabat lebih berhak menerima harta waris peninggalan pewaris ketimbang baitulmal. Kalaulah baitulmal lebih berhak untuk menampung harta peninggalan pewaris yang tidak mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh dan ashabah-nya, maka Umar bin Khathab pasti tidak akan memerintahkan kepada Abu Ubaidah Ibnul Jarrah r.a. untuk memberikan kepada paman Sahal tersebut. Sebab, Umar bin Khathab r.a adalah seorang khalifah Islam yang dikenal sangat mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Dan hal ini terbukti seperti yang banyak dikisahkan dalam kitab-kitab sejarah.

Adapun secara logika, sesungguhnya para kerabat jauh lebih berhak untuk menerima harta warisan daripada baitulmal. Alasannya, karena ikatan antara baitulmal dan pewaris hanya dari satu arah, yaitu ikatan Islam, karena pewaris seorang muslim. Berbeda halnya dengan seseorang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris, dalam hal ini ia mempunyai dua ikatan: ikatan Islam dan ikatan rahim.

Oleh sebab itu, ikatan dari dua arah sudah barang tentu akan lebih kuat dibandingkan ikatan satu arah. Permasalahan ini sama seperti dalam kasus adanya saudara laki-laki sekandung dengan saudara laki-laki seayah dalam suatu keadaan pembagian harta waris, yang dalam hal ini seluruh harta waris menjadi hak saudara laki-laki sekandung. Sebab, ikatannya dari dua arah, dari ayah dan dari ibu, sedangkan saudara seayah hanya dari ayah.

Di samping itu, kelompok kedua (jumhur ulama) ini menyanggah dalil yang dikemukakan oleh Imam Malik dan Imam Syafi’i bahwa hadits itu kemungkinannya ada sebelum turunnya ayat di atas. Atau, mungkin juga bahwa bibi (baik dari ayah atau ibu) tidak berhak mendapat waris ketika berbarengan dengan ashhabul furudh atau para ashabah.

Jadi jika kita melihat konteks hadits yang pernah dikemukakan mengenai jawaban Rasulullah saw. tentang hak waris bibi ketika itu disebabkan ada ashhabul furudh atau ada ashabah-nya. Inilah usaha untuk menyatukan dua hadits yang sepintas bertentangan.

Setelah membandingkan kedua pendapat itu, kita dapat menyimpulkan bahwa pendapat jumhur ulama (kelompok kedua) lebih kuat dan akurat, karena memang merupakan pendapat mayoritas sahabat, tabi’in, dan imam mujtahidin. Di samping dalil yang mereka kemukakan lebih kuat dan akurat, juga tampak lebih adil apalagi jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan dewasa ini, yang mana sudah cukup sulit menemukan baitulmal yang benar-benar dikelola oleh jamaah, yang amanah, yang terjamin pengelolaannya, yang adil dalam memberi kepada setiap yang berhak, dan tepat guna dalam menyalurkan harta baitulmal.

 

TANGGAPAN

Mengutip tulisan Mahrus AR dalam pendahuluan, beliau mendefenisikan Dzawil Arham sebagai kerabat pewaris yang tidak mendapatkan bagian dari harta pewaris. Kemudian dalam pembahasanannya menjelaskan konsep pembagian waris ashabah dengan menggunakan teks hadits AWLA RAJULIN DZAKARIN.

Lebih lanjut beliau memberikan gambaran posisi ahli waris dalam bagan berikut:

Description: C:\Users\Amrul\Downloads\WhatsApp Image 2018-12-05 at 9.19.35 AM.jpeg

 

Dijelaskan dari bagan tersebut jika dilihat dari segi kekerabatan nasab maupun kedekatan secara emosional, maka Andri cucu laki-laki dari anak perempuan lebih dekat kekerabatannya dari pewaris dibandingkan ‘Hendra’ keponakan laki-laki yang melewati jalur paman dan sepupu pewaris. Selanjutnya melalui pendekatan redaksi hadits AWLA RAJULIN DZAKARIN maka konsep pembagian waris ashabah adalah AWLA (kerabat dekat) RAJULIN (dari jalur keayahan) DZAKARIN (yang laki-laki), maka Keponakan Laki-laki dari sepupu pewaris lebih dekat kekerabatannya dengan pewaris dibandingkan dengan cucu laki-laki dari anak perempuannya pewaris.

Penanggap  tidak akan mengomentari terlalu jauh mengenai kedekatan kekerabatan ahli waris dengan pewaris menggunakan konsep AWLA RAJULIN DZAKARIN diatas. Yang menjadi pertanyaan mendasar penanggap atas pendapat diatas adalah, apakah keponakan laki-laki dari sepupu pewaris, bahkan termasuk cucu laki-laki dari anak perempuan  berhah mendapatkan waris ashabah? Sebagaimana tersirat dalam tulisan tersebut? Sebelum menjawab penanggap terlebih dahulu menguraikan beberapa hal sebagai berikut:

1.       Dzawil Furudh adalah ahli waris yang bagiannya telah ditentukan dalam al Qur’an dan al Hadits yang dikenal dengan istilah furudul muqaddarah).

Ahli waris yang masuk dalam ashabul furudh ini adalah:

a.    Suami;

b.    Istri;

c.     Anak perempuan (jika sendiri atau dua orang atau lebih), menjadi asobah sekiranya ada anak laki-laki bagian laki-laki dua kali bagian perempuan.

d.    Cucu perempuan dari anak laki-laki (jika ia sendiri atau dua orang atau lebih).

e.    Ibu.

f.     Ayah (jika ada anak laki-laki dan atau anak perempuan. ‘ashabah ketika tidak ada anak.

g.    Saudara perempuan kandung (jika ia sesendiri atau dua orang atau lebih). ‘ashabah kalau bersama anak perempuan

h.    Saudara perempuan seayah (jika sendiri atau dua orang atau lebih. ashabah jika bersama anak perempuan atau cucu perempuan

i.      Saudara perempuan seibu.

j.     Saudara laki-laki seibu.

k.    Kakek.

l.     Nenek.

2.       Dzawil Ashabah (ahli waris yang mendapatkan semua harta waris setelah pembagian bagian tetap atau mendapatkan sisa setelah pembagian bagian tetap).

Ahli waris yang menjadi ashabul ashabah adalah

a.       Anak perempuan (jika ada anak laki-laki/ashobah bilgair)

b.    Ayah (jika tidak ada anak/ashabah bin nafsi)

c.     Saudara perempuan kandung (jika bersama anak perempuan/ashabah ma’al gair)

d.      Saudara perempuan seayah (jika bersama anak perempuan atau cucu perempuan/ashabah ma’al gair)

 

Para fuqoha telah menyebutkan tiga macam kedudukan ashobah, yaitu:

1) Ashobah binafsihi ialah tiap-tiap kerabat yang leleki yang tidak diselangi seorang wanita. Jumlah mereka adalah: Anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki dan generasi dibawahnya, bapak dan kakek serta generasi diatasnya, saudara kandung, saudara sebapak, anak laki-laki saudara kandung, anak laki-laki saudara sebapak dan generasi dibawahnya, paman kandung, paman sebapak, anak laki-laki paman kandung, anak laki-laki paman sebapak.

2) Ashobah bighairihi ialah tiap waniya yang mempunyai furudh tapi dalam mawarits menerima ushubah memerlukan orang lain dan dia bersekutu dengannya untuk menerima ushubah itu. Mereka adalah:

a. Satu anak perempuan atau lebih, yang ada bersama anak laki-laki,

b. Satu cucu perempuan dari anak laki-laki atau lebih, yang ada bersama cucu laki-laki dari anak laki-laki.

c. Satu orang perempuan kandung atau lebih yang ada bersama saudara kandung

d. Satu orang saudara perempuan sebapak atau lebih yang ada bersama saudara laki-laki sebapak.

3) Ashobah ma’a ghairi ialah tiap wanita yang memerlukan orang lain dalam menerima ushubuah. Sedangkan orang lain itu tidak bersekutu menerima ushubah tersebut. mereka adalah:

a. Seorang saudara perempuan kadung atau lebih, yang ada bersama anak perempuanatau cucu perempuan dari anak laki-laki.

b. Seorang saudara perempuan sebapak atau lebih, yang ada bersama anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki.

 

3.       Dzawil Arham adalah kerabat yang tidak masuk dalam dzail furudh dan dzawil ashabah).

Mari kita kembali pada bagan diatas. Jika dilihat kedudukan seluruh ahli waris pada bagan tersebut diatas, telah nampak bahwa ada tiga golongan ahli waris dalam tabel tersebut:

a.       Golongan Dzawil Furudh: mmmm

b.      Golongan Dzawil Ashabah: mmmm

c.       Golongan Dzawil Arham: Paman seibu, Andri dan Hendra

Terlepas dari maksud untuk menjelaskan posisi Hendra dan Andri, namun pada bagan tersebut menimbulkan beberapa kemungkinan, diantaranya:

- Kemungkinan pertama, saat Pewaris/Budi meninggal dunia, seluruh ahli waris dalam bagan tersebut masih hidup;

- Kemungkinan Kedua, Saat Pewaris/Budi meninggal dunia, ahli waris  yang masih hidup adalah sebgaian dari golongan dzawil furudh dan atau sebagaina dari golongan dzawil ashabah, serta Andri dan Hendra sendiri;

- Kemungkinan Ketiga, Saat Pewaris/Budi meninggal dunia, ahli waris  yang masih hidup hanya Andri dan Hendra, selebihnya sudah meninggal lebih dahulu;

Kemungkinan-kemungkinan tersebut diatas tentunya sangat mempengaruhi hak dan bagian dari setiap ahli waris golongan dzawil Arham:

Pada kemungkinan pertama, Pewaris/Budi meninggal dunia dan seluruh ahli warisnya dalam bagan tersebut masih hidup, maka ahli waris yang berhak mendapatkan warisan adalah, ayah, ibu, paman kandung ayah, sedangkan ayah dan ibu (dzawil furudh) masing-masing 1/6, anak perempuan (dzawil furudh) mendapat ½, sedangkan paman kandung mendapat 1/6 yakni sisa dari bagian ayah, ibu dan anak perempuan, karena paman kandung dari bapak merupakan golongan dzawil ashabah. Paman dari ibu, hendra dan andri sebagai ahli waris golongan dzawil arham tidak mendapat warisan karena masih ada ahli waris dzawil furud dan dzawil ashobah;

- Kemungkinan Kedua, Pewaris/Budi meninggal dunia dan diantara ahli waris  yang masih hidup adalah sebagian dari golongan dzawil furudh dan atau sebagian dari golongan dzawil ashabah, serta Paman seibu, Andri dan Hendra sendiri, dalam kondisi ini Ketiganya (sebagai Dzawil Arham) tetap tidak berhak mendapat warisan karena ahli waris dari dzawil furudh dan dzawil ashobah masih ada;

- Kemungkinan Ketiga, Saat Pewaris/Budi meninggal dunia, ahli waris  yang masih hidup hanya Andri dan Hendra, selebihnya sudah meninggal lebih dahulu, dalam kondisi ini Andri dan Hendra berhak mendapatkan warisan karena sudah tidak ada ahli waris dari dzawil Purudh dan dzawil ashobah.

Intinya selama masih ada ahli waris dari dzawil furudh dan dzawil ashobah maka dzawil arham terhijab untuk mendapatkan warisan.

Apakah tidak ada sama sekali jalan bagi dzawil arham untuk mendapatkan warisan? Tentu saja tidak. Dengan melalui lembaga ahli waris pengganti yang merupakan terobosan dalam kewarisdan Islam, maka dzawil arham yang tadinya terhijab secara hirman oleh ahli waris dari golongan dzawil furudh dan dzawil ashobah, menjadi punya hak untuk mewarisi peninggalan pewaris.

Sebagai contoh dari tabel diatas, jika anak perempuan (ibu dari Andri) meninggal lebih dahulu dari pewaris ‘Budi’, maka Andri sebagai cucu dari anak perempuan pewaris (dalam istilah fiqh mawaris Ibnu Bin) terhalang karena kedudukannya sebagai dzawil arham. Namun oleh karena ibunya telah meninggal lebih dahulu dari pewaris maka berdasarkan KHI Andri menjadi ahli waris pengganti yang menggantikan posisi ibunya.

Perlu diingat bahwa dalam lembaga ahli waris pengganti dzawil arham tidak serta merta menjadi ahli waris pengganti, dan tidak semua berhak menjadi ahli waris pengganti.

Lebih jelasnya dapat dilihat pada ketentuan dalam KHI sebagai berikut:

Pasal 185

Ahli waris yang meninggal lebih dahulu dari pada sipewaris maka kedudukannya dapat digantikan

oleh anaknya, kecuali mereka yang tersebut dalam Pasal 173

Pasal 173

Seorang terhalang menjadi ahli waris apabila dengan putusan hakim yang telah mempunyai

kekuatan hukum yang tetap, dihukum karena:

a. dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat para pewaris;

b. dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan

suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat.

 

Jadi untuk menjadi Ahli waris pengganti syarat utamanya adalah manakala ahli waris diatasnya meninggal lebih dahulu dari pewaris.

Selain itu Ahli Waris Pengganti juga terbatas pada keturunan garis lurus ke bawah sampai derajat cucu.[5]

Sebagai contoh dari tabel diatas, jika Sepupu dari Pewaris (orang tua dari Hendra) meninggal lebih dahulu dari pewaris ‘Budi’, maka Hendra terhalang karena kedudukannya sebagai dzawil arham (bahkan orang tuanya juga dzawil arham. Dan meskipun orang tuanya telah meninggal lebih dahulu dari pewaris tetapi hendra tidak berhak menjadi ahli waris pengganti karena Hendra bukan keturunan garis lurus ke bawah dari pewaris.

 

Kembali pada tulisan Mahrus AR bahwa dalam ,

KESIMPULAN:

Dari uraian diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.       Dzawil Furudh adalah ahli waris yang bagiannya telah ditentukan dalam al_Quran dan Sunnah (Furudul Muqaddarah), sedangkan;

2.       Dzawil Arham adalah ahli waris atau kerabat dari si mayyit yang tidak masuk dalam golongan dzawil furudh dan dzawil ashobah;

3.       Selama ahli waris dari dzawil furudh dan atau dzawil ashobah masih ada maka dzawil arham terhijab mendapatkan warisan;

4.       Sebagian ahli waris dari golongan dzawil arham bisa mendapat warisan melalui lembaga ahli waris pengganti;

5.       Ahli waris pengganti terbatas pada garis lurus ke bawah dari pewaris (Rumusan Hasil Diskusi Komisi II Point A angka 5 pada Rakernas MA 2010 di Balikpapan).

Wallahu A’lam



[1] Tulisan ini semata-mata dimaksudkan sebagai sharing pengetahuan dan bukan untuk maksud lainnya

[2] Muhammad Bin Umar al Baqri Syafi'i, Syarah Matan ar Rahbiyah, Toha Putera, Semarang 1991

[3] Mengutif kembali tulisan Mahrus AR

[4] Diunduh pada tanggal 000000000000000

[5] Rumusan Hasil Diskusi Komisi II Point A angka 5 pada Rakernas MA 2010 di Balikpapan.

Pilih Bahasa

Sosial Media Kami

          

Pengunjung

005816
Hari Ini
Yesterday
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Semua
228
372
5816
0
5816
0
5816

Your IP: 54.221.147.93
Server Time: 2018-12-16 14:05:08

We have 7 guests and no members online

Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech